Beranda Media Kota Batu Rawan Bencana Longsor, Satlinmas Harus Paham Penanganan Bencana

Kota Batu Rawan Bencana Longsor, Satlinmas Harus Paham Penanganan Bencana

142
0

BATU – Para petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di Kota Batu mengikuti bimbingan teknis penanganan bencana. Bimbingan ini digelar agar anggota Linmas memiliki pengetahuan dalam penanganan bencana, baik sebelum, saat dan sesudah bencana.

Hal tersebut dikatakan Sekretaris Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan Nugroho yang hadir saat pembukaan Bimtek di Hotel Orchid, Kota Batu, Rabu (11/9/2019).

Nugroho mengatakan, ada 10 daerah di seluruh Indonesia yang menyelenggarakan bimbingan teknis penanganan bencana kepada Linmas. Dikatakannya, Kota Batu dipilih karena adanya potensi bencana di kota wisata ini.

“Karena Kota Batu merupakan daerah rawan bencana seperti longsor, kebakaran hingga banjir,” ujar Nugroho, Rabu (11/9/2019).

Dalam bimbingan teknis ini, peserta diberi pembakalan tentang mitigasi bencana. Instrukturnya berasal dari lintas dinas, ada BPBD Kota Batu, Dinas Pemadam Kebakaran hingga Satpol PP.

“Nantinya bagaimana ketahanan bencana. Harapan kami, Satlinmas bisa menularkan kepada seluruh jajaran aparatur yang ada di lingkungan sekitar,” ungkapnya.

Dikatakan Nugroho, selama ini Kemendagri memiliki program untuk mendorong pemerintah daerah agar memiliki kesiapsiagaan penanganan bencana. Kemendagri berharap, ada irama yang sama antara pemerintah pusat hingga daerah dalam penanganan bencana.

“Jadi nantinya bukan hanya Linmas saja. Ada aparat lain seperti TNI/Polri, termasuk Satpol PP. Linmas merupakan unsur aparatur daerah sehingga harus bersinergi,” tambahnya.

Sementara itu, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan akan mempertimbangkan kesejahteraan Linmas. Dewanti mengatakan, ia bisa membuat Perwali untuk membuat kesejahteraan para anggota Linmas lebih baik.

Selama ini, kata Dewanti, Linmas mendapatkan tunjangan sebanyak Rp 150 ribu per bulan di Kota Batu. Dalam setipa kegiatan, juga ada uang pembinaan sebanyak Rp 50 ribu. Selain membuat Perwali, Dewanti juga meminta agar pemerintah desa bisa mengalokasikan lebih anggaran desa untuk kesejahteraan Linmas.

“Ya Insya Allah, ini di Kota Batu insentif untuk Linmas sudah ada. Ketika ada acara juga ada uang saku. Nah ini sudah diprogramkan, dan kami mengimbau desa bisa membantu karena ada anggaran mulai dari Rp 4 M hingga Rp 8 M per desa,” paparnya.

“Linmas perannya strategis dan tanggungjawab besar di desa. Untuk itu, kami ada aturannya diminta berapa persen dari dana di desa. Kalau untuk Perda mungkin belum, tapi saya bisa buat Perwali,” ujar Dewanti.

Dewanti mengatakan, Linmas bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan diisi oleh para relawan. Menanggapi bimtek yang diselenggarakan, Dewanti juga berharap agar penanganan bencana juga mempertimbangkan posisi perempuan dan anak.

Kata Dewanti, perempuan dan anak banyak menjadi korban selama ini. Dijelaskan Dewanti, seorang ibu cenderung mencari anaknya terlebih dahulu ketika ada kejadian bencana. Sedangkan suami atau laki-laki, cenderung terlebih dahulu menyelamatkan diri.

“Yang menjadi korban adalah anak dan perempuan. Secara psikologis ibu mencari keluarga. Kalau ayah, keluar dulu menyelamatkan diri,” kata Dewanti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here