Beranda Media RAPAT PEMBAHASAN DRAFT LAPORAN KEADAAN PELESTARIAN LANSKAP BUDAYA PROVINSI BALI: SISTEM SUBAK...

RAPAT PEMBAHASAN DRAFT LAPORAN KEADAAN PELESTARIAN LANSKAP BUDAYA PROVINSI BALI: SISTEM SUBAK SEBAGAI MANIFESTASI DARI FILOSOFI TRI HITA KARANA

27
0

Bali – Direktorat Kawasan, Perkotaan dan Batas Negara Ditjen Administrasi Kewilayahan, Kementerian Dalam Negeri menghadiri Rapat Pembahasan Draft Laporan Keadaan Pelestarian Lanskap Budaya Provinsi Bali: Sistem Subak sebagai Manifestasi dari Filosofi Tri Hita Karana, bertempat di Hotel Mercure Batavia Jakarta, Jumat 20 November 2020 yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rapat dihadiri oleh Pejabat Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Luar Negeri, Perwakilan UNESCO, Pemerintah Kabupaten Tabanan  dan secara daring diikuti oleh Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Gianyar. Rapat ini bertujuan untuk menyusun laporan, khususnya penajaman argumen Pemerintah Indonesia terkait Pelestarian Lanskap Budaya Provinsi Bali Sistem Subak yang disertai dengan tindakan dan dukungan kebijakan pemerintah serta kelompok petani/masyarakat adat yang meliputi 8 issu yang menjadi konsentrasi penilaian oleh  Komite Warisan Dunia.

Lanskap Budaya Provinsi Bali Sistem Subak sebagai bentuk manifestasi dari filosofi Tri Hita Karana yang menggabungkan dunia spritual, manusia, dan alam, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia (World Cultural Heritage) UNESCO pada tanggal 6 Juli 2012. Sebagai World Cultural Heritage, sistem Subak didefinisikan bukan hanya sekadar sebagai situs alam dalam bentuk materi, melainkan pula dalam bentuk filosofi yang perlu dilindungi. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki Kawasan Khusus Kawasan Cagar Budaya sebagai Warisan Dunia, berkewajiban untuk menyampaikan laporan kepada Komite Warisan Dunia melalui Sekretariat Pusat Warisan Dunia tentang kondisi pelestarian situs Warisan Dunia tersebut. Pada 1 Desember 2020 ini, Pemerintah Indonesia diminta untuk memberikan laporan kondisi pelestarian (state of conservation) Lanskap Budaya Provinsi Bali : Sistem Subak sebagai Manifestasi Filosofi Tri Hita Karana, sebagai salah satu Warisan Dunia kepada Komite Warisan Dunia sesuai keputusan sidang Komite Warisan Dunia pada sesi ke 43 yang diselenggarakan di Baku, Azerbaijan. Komite Warisan Dunia sebagai penilai keadaan konservasi properti Warisan Dunia, menekankan penilaian bahwa Nilai Universal yang Luar Biasa (OUV) dari semua properti Warisan Dunia telah dipertahankan dari waktu ke waktu.

Semenjak penetapannya, Lanskap Budaya Provinsi Bali Sistem Subak telah mengalami dampak besar di bidang pariwisata. Pertumbuhan pariwisata telah membawa peningkatan jumlah pengunjung domestik dan asing, yang pada akhirnya menyebabkan pembangunan fasilitas pariwisata yang berpotensi mengakibatkan alih fungsi lahan, permasalahan lingkungan dan perubahan sosial dan ekonomi masyarakat lokal di dalam Situs Warisan Dunia.

Sebagai hasil diskusi, beberapa hal pokok yang dijabarkan dalam konsep laporan kondisi pelestarian (state of conservation) Lanskap Budaya Provinsi Bali : Sistem Subak sebagai Manifestasi Filosofi Tri Hita Karana, antara lain sebagai berikut:

1. Informasi bentuk dukungan Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerinah Kabupaten terkait bantuan keuangan, bantuan fisik dan kebijakan/peraturan yang diterbitkan untuk membantu petani subak serta kebijakan kesepakatan para petani subak dalam menjaga penggunaan lahan di dalam dan sekitar subak demi kelestarian lingkungan alam yang merupakan salah satu poin penilaian oleh Komite Warisan Dunia.
2. Informasi terkait forum koordinasi dan tim koordinasi dalam rangka peningkatan dan penguatan koordinasi untuk berbagai program dan inisiatif yang dapat berdampak pada efektivitas sistem manajemen yang ditetapkan;
3. Keterlibatan petani subak dalam pengambilan keputusan dan sistem manajemen formal dalam setiap perencanaan pembangunan yang akan dilakukan di wilayah subak;
4. Dukungan Pemerintah Indonesia dalam pengembangan mekanisme Heritage Impact Assessment (HIA) khusus yang terkait dengan sistem pemanfaatan dan pengelolaan ruang yang dapat mengatasi kebutuhan akan pelindungan berkelanjutan terhadap Nilai Universal yang Luar Biasa/Outstanding Universal Value (OUV) dari lanskap budaya yang telah ditetapkan sesuai dengan Paragraf 172 dari Operational Guideline.
5. Dorongan dan insentiv beasiswa kepada  generasi muda untuk menggeluti profesi sebagai petani sebagai generasi penerus tradisi Subak.

Guna mendukung konservasi sistem Subak Bali sebagai Warisan Dunia, Kemendagri menyarankan :

Penguatan dukungan finansial Pemerintah Daerah terhadap Pengelolaan dan pelestarian tradisi kebudayaan oleh masyarakat pelaku dan lembaga adat sesuai dengan kewenangan Daerah, termasuk di dalamya pengaturan “sistem bagi hasil” atas pemasukan dari sektor kunjungan wisatawan ke Lanskap Budaya Provinsi Bali Sistem Subak.
Pendokumentasian peraturan adat dalam sistem pengelolaan Subak yang selama ini masih dituturkan secara lisan ke dalam bentuk tulisan aksara Bali dan Latin sebagai manifestasi inovasi budaya.
Mendorong Lanskap Budaya Provinsi Bali Sistem Subak sebagai Kawasan Stategis Nasional dalam RTRW Nasional guna menjamin kelestarian sumber air, luasan sawah dan jaringan irigasi Subak sebagai upaya menjaga keterawatan Situs Warisan Dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here