Beranda Diseminasi

Diseminasi

Update : 2 Mei 2019

KEJADIAN BENCANA DI DAERAH
Tgl 1 Jan 2019 s/d 30 April 2019.

1.586 Kejadian Bencana Menyebabkan 438 Jiwa Meninggal dan Hilang Terjadi Selama Tahun 2019*

Kejadian bencana terus meningkat di Indonesia. Dampak yang ditimbulkan bencana juga cukup besar. Bencana bukan saja menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan. Namun juga menimbulkan kerugian ekonomi yang memerosotkan capaian pembangunan.

Selama tahun 2019 yaitu 1/1/2019 hingga 30/4/2019 di Indonesia terjadi bencana sebanyak 1.586 kejadian bencana. Dampak bencana yang ditimbulkan 325 orang meninggal dunia, 113 orang hilang, 1.439 orang luka-luka dan 996.143 orang mengungsi dan menderita. Kerusakan fisik meliputi 3.588 rumah rusak berat, 3.289 rumah rusak sedang, 15.376 rumah rusak ringan, 325 bangunan pendidikan rusak, 235 fasilitas peribadatan rusak dan 78 fasilitas kesehatan rusak.

Lebih dari 98 persen bencana yang terjadi adalah bencana hidrometeorologi sedangkan 2 persen bencana geologi. Selama 2019 ini ada tiga kejadian bencana yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang cukup besar yaitu:
1. Banjir dan longsor di Sulawesi Selatan pada 22/1/2019 yang menyebabkan 82 orang meninggal dunia, 3 orang hilang, dan 47 orang luka. Kerugian dan kerusakan ditaksir Rp 926 milyar.
2. Banjir dan longsor di Sentani Provinsi Papua pada 16/3/2019 yang menyebabkan 112 orang meninggal dunia, 82 orang hilang, dan 965 orang luka. Kerugian dan kerusakan mencapai Rp 668 milyar.
3. Banjir dan longsor di Bengkulu pada 27/4/2019 menyebabkan 29 orang meninggal dunia, 13 orang hilang dan 4 orang luka. Kerugian dan kerusakan sekitar Rp 200 milyar (data sementara).

Secara statistik, dibandingkan tahun 2018 dalam periode yang sama kejadian bencana pada 2019 mengalami kenaikan 7,2 persen. Pada 2018 terjadi 1.480 bencana sedangkan 2019 terjadi 1.586 kejadian bencana. Untuk korban jiwa, juga terjadi kenaikan 192 persen dimana pada tahun 2018 terdapat 150 orang meninggal dunia dan hilang sedangkan pada 2019 korban meninggal dan hilang tercatat 438 orang. Begitu pula korban luka-luka juga mengalami kenaikan 212 persen. Korban luka pada tahun 2018 sebanyak 461 orang sedangkan tahun 2019 sebanyak 1.439 orang.

Berdasarkan sebaran kejadian bencana per provinsi maka bencana paling banyak terjadi di Jawa Tengah (472 kejadian), Jawa Barat (367), Jawa Timur (245), Sulawesi Selatan (70) dan Aceh (51). Sedangkan sebaran bencana per kabupaten/kota, bencana paling banyak terjadi di Kabupaten Sukabumi (50 kejadian), Semarang (43), Bogor (42), Majalengka (38) dan Temanggung (37).

Statistik bencana ini bukan hanya memuat angka-angka, namun memiliki makna bahwa ancaman bencana terus meningkat. Meningkatnya bencana pada tahun 2019 disebabkan adanya pemicu banjir dan longsor yaitu curah hujan yang deras. Kombinasi antara alam dan antropogenik menjadi penyebab utama meningkatnya bencana.

Tingkat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana besar masih rendah. Mitigasi baik struktural dan non struktural masih belum dijadikan prioritas dalam pembangunan di daerah. Upaya penanganan bencana masih banyak menitikberatkan pada darurat bencana. Upaya pencegahan dan kesiapsiagaan masih perlu ditingkatkan.

Kejadian bencana yang terus meningkat hendaknya menjadi pembelajaran agar tidak terulang di masa mendatang. Jikapun terjadi lagi, dampak bencana dapat diminimalkan. Oleh karena itu pengurangan risiko bencana dan mitigasi bencana harus terintegrasi dalam pembangunan. Pengurangan risiko dan mitigasi bencana menjadi investasi dalam pembangunan.

Saat tanggap darurat masih dilakukan di Bengkulu, Sigi, Pesisir Barat dan lainnya. Pencarian, penyelamatan dan evakuasi bencana di Bengkulu masih terus dilakukan. Dampak bencana di Bengkulu saat ini 29 orang meninggal dunia, 13 orang hilang, 4 orang luka, 12.000 orang mengungsi, 13.000 orang terdampak, 211 ternak mati, 184 rumah rusak, 40 titik infrastruktur rusak dan lainya. Sebagian wilayah banjir sudah surut dan meninggalkan sampah dan material yang banyak. Pemenuhan kebutuhan dasar bagi pengungsi terus ditingkatkan terutama kebutuhan dasar seperti pemenuhan makanan siap saji, air bersih, tenda pengungsian dan lainnya.

Begitu juga dengan penanganan banjir lumpur di Sigi Sulawesi Tengah. Banjir lumpur melanda tiga kecamatan yaitu Kecamatan Dolo Selatan, Gumbasa dan Kulawi pada 28/4/2019 siang. Banjir menyebabkan 1 orang meninggal, 2.793 orang mengungsi, 5 rumah hilang, 36 rumah rusak berat dan 528 rumah terendam banjir dan lumpur. Tebal lumpur bervariasi 10 cm hingga 3.5 meter. Perlu penanganan khusus terutama membersihkan lumpur yang tebal.

Sumber :
Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Update : 24 April 2019

PRESS RELEASE

Perkuat Koordinasi untuk Pembangunan Nasional

JAKARTA, Selasa (23/4) – Menteri/ Kepala Badan Perencanaan Nasional RI, Bambang Dr. Bambang P.S. Brodjonegoro dengan didampingi Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dr. Dwikorita Karnawati, membuka kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) dan Rapat Koordinasi Pembangunan Nasional (RAKORBANGNAS) di Auditorium BMKG.

Rakornas dan Rakorbangnas yang dilaksanakan dari Selasa (23/4) hingga Jumat (26/4) ini diikuti 482 peserta dari Kantor Pusat BMKG, Para Pejabat UPT/ Daerah, Dharma Wanita Persatuan Daerah dan Pusat, serta Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG).

Kegiatan Rakorbangnas tahun ini mengangkat tema Menuju One Observation Policy, “Sinkronisasi dan Koordinasi Penyelenggaraan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika untuk Indonesia Selamat dan Sejahtera.” Sementara untuk tema dari Rakornas tahun ini, yaitu Smart SDM Menuju Global, “Dengan Spirit Socioenterpreneurship.”

Dwikorita menuturkan dalam Rancangan Teknoratik Rencana Pembangunan Jangka menengah 2020-2024 isu bencana dan perubahan iklim menjadi topik khsusu yang akan memberikan arahan bagi sektor dan regional dalam penyusunan rencana pembangunan untuk lima tahun ke depan.

Untuk tahun 2020 yang saat ini berlangsung, tambah Dwikorita isu bencana dan perubahan iklim akan menjadi program prioritas yang sasarannya mewujudkan pembangunan ketahanan bencana serta pembangunan rendah karbon.

Untuk hal ini, peran strategis BMKG dalam perkembangan global pengamatan cuaca dan perubahan iklim sangat diperhatikan.

“Kegitan Rakorbangnas ini menjadi sangat strategi karena menjadi forum untuk sinkronisasi dan koordinasi kebijakan satu observasi serta pemantauan dan evaluasi terhadap efektivitas penyelenggaraan meteorologi,klimatologi
dan Geofisika.

Pertemuan koordinasi pembangunan ini,lanjut Dwikorita sebagai langkah penyiapan rancangan awal Rencana Kerja Pemerintah pada tiap tahun anggaran dan menjadi masukan untuk perencanaan pembangunan Nasional.

“Kita perlu mempertimbangkan perencanaan pembangunan yang rawan bencana,mengingat wilayah Indonesia rawan bencana alam, seperti pembangunan infrastruktur dan bangunan yang tahan gempa,pembangunan jalur evakuasi bencana di wilayah permukiman dan perkantoran,serta adaptasi perubahan iklim di berbagai sektor,”ucap Dwikorita.

Sambung Dwikorita,ia menuturkan pertemuan sinkronisasi dan koordinasi ini sangat tepat untuk meningkatkan kerjasama BMKG dengan pihak pihak terkait tersebut terutama untuk saling tukar informasi dan data observasi baik untuk penelitian,prediksi, maupun peringatan dini.

Sementara, Menteri/ Kepala BAPPENAS, Dr. Bambang P.S. Brodjonegoro, menuturkan jika lembaganya akan siap membantu BMKG dalam menyebarluaskan informasi.

“Bappenas siap mendukung BMKG menjadi terdepan dalam menyediakan layanan informasi berbasis maritime, tidak hanya berbasis terrestrial,” tutup Bambang.

Bagian Hubungan Masyarakat
Biro Hukum dan Organisasi

Instagram: @InfoBMKG
Twitter: @InfoBMKG
Facebook: InfoBMKG
YouTube: InfoBMKG

#BMKG
#PemerintahBekerja

http://www.bmkg.go.id

Update : 12 April 2019

Laporan Situasi masyarakat di beberapa wilayah sudah kondusif pascagempa M 6,8 yang terjadi pada Jumat (12/4), pukul 18.40 WIB.

Masyarakat yang mengungsi sebagian sudah pulang ke rumahnya. Pengungsian sempat teridentifikasi di Kabupaten Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah hingga malam tadi (12/4).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Banggai melaporkan pada Sabtu (13/4) pukul 06.00 WIB bahwa 1.300 KK penyintas tersebar di 4 titik, yaitu halaman kantor bupati, masjid An-Nur komplek perkantoran, Gedung DPRD dan kantor polres telah kembali ke rumah mereka. Penyintas pulang ke rumahnya secara mandiri dan sebagian di antar oleh BPBD.

Kondisi masyarakat di Kota Palu, Luwu, Banggai, Kepulauan Banggai sudah kondusif. Beberapa warga di Kabupaten Banggai masih ada di pegunungan karena rasa takut, demikian juga mereka yang ada di Kabupaten Kepulauan Banggai. Namun sebagian besar warga yang awalnya mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing.

Meskipun BMKG sudah menyatakan peringatan dini tsunami diakhiri sejak semalam. Namun tidak seketika warga mau kembali ke rumahnya. Mereka tetap memilih mengungsi di bukit-bukit atau di daerah yang tinggi.

Arti dari peringatan dini tsunami diakhiri adalah Pemda dapat mengarahkan warganya dapat kembali ke rumahnya masing-masing. Kondisi aman dari tsunami. Namun demikian, di lapangan tidak mudah untuk meyakinkan masyarakat, apalagi jeda waktu antara peringatan dini evakusi dan diakhiri dalam waktu pendek sehingga masyarakat tetap di pengungsian.

Sementara itu, gempa dengan kedalaman 17 km telah mengguncang kuat di Kabupaten Taliabu sehingga membuat masyarakat panik dan mengungsi ke tempat aman.

Beberapa upaya yang telah dilakukan sesaat setelah terjadinya gempa, antara lain:
– BPBD Kabupaten Banggai telah meminta masyarakat di Kecamatan Toili untuk mengungsi.
– BPBD Kabupaten Morowali saat ini sedang melakukan pengecekan dampak gempa untuk wilayah yang dekat pantai.
– BPBD Kabupaten Kepulauan Banggai telah mengarahkan masyarakat untuk tenang dan kembali ke rumah karena BMKG telah menyatakan bahwa tsunami telah berakhir. BPBD setempat telah mendirikan tenda pengungsi di halaman kantor bupati.
– BPBD Kota Palu berkeliling menggunangan mobil rescue mengabarkan kepada masyarakat bahwa tsunami telah berakhir.
– BPBD Kabupaten Kepulauan Banggai mendirikan tenda pengungsi sementara untuk menampung warga yang masih takut pulang ke rumahnya
– BPBD Kabupaten Taliabu melakukan pendataan warga yang mengungsi dan memberikan pengarahan agar tetap tenang dan waspada.

Menurut BMKG, gempa bumi dengan magnitudo 6,9, yang kemudian dimutakhirkan menjadi 6,8 ini mengguncang wilayah Kabupaten Morowali, Morowali Utara, dan Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Gempa tersebut memiliki episenter pada koordinat 1,89 LS dan 122,57 BT, tepatnya di Teluk Tolo, pada jarak 82 kilometer arah barat daya Kepulauan Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, dengan kedalaman 17 kilometer.

BMKG menyampaikan bahwa dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa ini merupakan jenis dangkal akibat aktivitas sesar aktif. BMGK menduga bahwa struktur sesar yang menjadi pembangkit gempa ini adalah Sesar Peleng yang jalurnya berarah barat daya-timut laut di Pulau Peleng dan menerus ke Teluk Tolo.

Sumber :
Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB

 

GEMPA TELUK TOLO DIPICU SESAR AKTIF

Pada hari Jum’at malam, 12 April 2019 pukul 18.40.51 WIB gempa kuat dengan magnitudo M=6,9 mengguncang wilayah Kabupaten Morowali, Morowali Utara, dan Kepulauan Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah.

Selanjutnya, setelah dilakukan pemutakhiran, magnitudo gempa berubah turun menjadi magnitudo M=6,8. Episenter terletak pada koordinat 1,89 LS dan 122,57 BT tepatnya di Teluk Tolo, pada jarak 82 kilometer arah baratdaya Kepulauan Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah, dengan kedalaman 17 kilometer.

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa ini berpotensi tsunami, sehingga BMKG dalam waktu kurang dari 5 menit setelah terjadi gempa segera mengeluarkan peringatan dini tsunami dengan status ancaman waspada dengan estimasi tinggi tsunami kurang dari 50 cm.

Setelah dilakukan pemutakhiran magnitudo dan melakukan monitoring terhadap muka air laut melalui pengamatan tide gauge di lokasi Kendari (Sulawesi Tenggara) dan Taliabu (Maluku Utara), menunjukkan tidak ada kenaikan muka air laut yang signifikan.

Berdasarkan pengecekan kondisi lapangan oleh BMKG dan BPBD setempat juga tidak ada laporan adanya air surut maupun terjadinya tsunami. Atas dasar beberapa hal tersebut, maka BMKG pada pukul 19.47 WIB (20.47 WITA) menyatakan bahwa Peringatan Dini Tsunami berakhir.

Sesar Aktif

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, tampak bahwa gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif. Ada dugaan bahwa struktur sesar yang menjadi pembangkit gempa ini adalah Sesar Peleng yang jalurnya berarah baratdaya-timutlaut di Pulau Peleng dan menerus ke Teluk Tolo.

Sesar Peleng merupakan sesar aktif yang memiliki laju sesar sebesar 1,0 milimeter per tahun dan magnitudo maksimum yang mencapai M=6,9. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan mendatar (strike slip).

Dugaan ini didasarakan pada alasan bahwa lokasi episenter terletak pada kelurusan Sesar Peleng yang menerus ke laut dan sumber gempa ini memiliki mekanisme pergerakan mendatar menganan (dextral).

Dampak gempa ini berdasarkan laporan masyarakat dirasakan di wilayah Poso, Buol, Morowali, Banggai dan Palu pada skala intensitas IV MMI; di Kolaka Utara dan Toli-toli III-IV MMI; di Kotamobagu, Palopo, Kolaka, Makassar dan Kep. Konawe III MMI; di Gorontalo dan Kendari II-III MMI; di Manado, Pinrang dan Konawe II MMI.

Saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa. Hingga pukul 23.50 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan terjadinya aktivitas gempa susulan (aftershock) sebanyak 43 kali dengan kekuatan paling besar M=5,6 dan terkecil M=3,4.

Tektonik dan Sejarah Tsunami

Wilayah Kepulauan Banggai berada di kawasan rawan gempa dan tsunami. Secara tektonik di wilayah ini terdapat beberapa sesar aktif, seperti Sesar Naik Batui, Sesar Balantak, Sesar Ambelang, dan Sesar Peleng,

Berdasarkan catatan sejarah di Kepualauan Banggai sudah beberapa kali terjadi tsunami. Wilayah ini pernah dilanda tsunami pada 13 Desember 1858. Terjangan tsunami menyebabkan banyak desa-desa di pesisir pantai Kepulauan Banggai mengalami kerusakan yang parah.

Selanjutnya pada 29 Juli 1859 wilayah Kepulauan Pulau Banggai kembali dilanda tsunami yang menerjang dan merusak banyak bangunan rumah yang terletak di wilayah pesisir.

Terakhir adalah tsunami akibat gempa dengan magnitudo M=7,5 pada 4 Mei 2000. Gempa ini memicu tsunami yang kemudian melanda Luwuk, Banggai, dan Peleng. Tsunami Banggai ini memiliki ketinggian yang diperkirakan mencapai hingga 3-6 meter di Kecamatan Totikum, Kayutanyo, dan Uwedikan dengan landaan tsunami sejauh 100 meter dari garis pantai. Di dermaga Totikum air surut kurang lebih 200 meter. Kejadian gempa dan tsunami tahun 2000 ini mengakibatkan korban meninggal sebanyak 46 orang dan 264 orang luka-luka.*

Jakarta, 12 April 2019

Kepala Bidang informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG
Dr. DARYONO, S.Si.,M.Si.

Update : 25 Maret 2019
Update : 19 Maret 2019
Update : 8 Maret 2019
Update : 28 Februari 2019