Beranda Kejadian Bencana

Kejadian Bencana

Update 3 Oktober 2019
  1. Pada Tanggal 3 Oktober 2019, Tim melaksanakan Monitoring di Kabupaten Maluku Tengah , Tim bergerak di Universitas Darussalam yang menjadi Pos Induk Tanggap Darurat Bencana Gempa Kabupaten MalukuTengah, Informasi yang diperoleh Tim berdasarkan hasil koordinasi dengan Bapak Bob Rachmat, M.Si Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Maluku Tengah, Bapak  Agan Pelu Plt Kepala Dinas Perumahan  Rakyat Kabupaten Maluku Tengah dan Bapak Ali Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Maluku Tengah adalah sebagai berikut:
  • Kabupaten Maluku Tengah merupakan daerah terdekat dengan titik gempa serta Kabupaten yang paling terdampak langsung efek gempa, adapun data yang diperoleh Tim
  • Setelah berkoordinasi di Posko Induk Tim melakukan monitoring di Kecamatan Liang yang paling terdampak efek Gempa Bumi beserta Bapak Agan Pelu
  • Tim beserta Bapak Wakil Bupati Maluku Tengah dan jajarannya melakukan monitoring kewilayah Pulau Haruku, berdasarkan hasil monitoring,diperoleh informasi sebagai berikut :
  • Menurut informasi Pulau Haruku adalah wilayah desa terdekat dari Titik Pusat Gempa Bumi di wilayah Provinsi Maluku.
  • Hasil monitoring terdapat beberapa rumah dengan Kondisi Rusat Berat/Roboh diakibatkan konstruksi bangunan yang tidak menggunakan bahan baku serta pondasi kuat sehingga menyebabkan rumah tersebut roboh saat terjadi gempa.
  • Terdapat kerusakan Rumah Ibadah yaitu Gereja Eben Heaezer di Pulau Haruku yang terletak berdekatan dengan titik gempa, mengakibatkan gereja mengalami kerusakan parah pada bagian dinding dan juga atapnya, hal ini berdampak pendeta dan warga tidak berani menggunakan gereja tersebut untuk melakukan kegiatan ibadah.
  • Tim melakukan pemantauan pada retakan tanah yang ditemukan warga akibat gempa bumi yang berada di Dusun Antomoi, adapun retakan tanah tersebut berkedalaman 1 meter dengan posisi terbentang melintasi perkebunan di atas gunung Dusun Antomoi. Retakan ini diharapakan tidak bertambah dalam sehingga tidak berakibat terjadinya longsor.
  • Tim melakukan Koordinasi dengan Relawan Dokter dari Rumah Sakit Angkatan Laut Ciremai, Kota Cirebon dan diperoleh informasi bahwa sangat dibutuhkan Tenaga Medis Traumatic Healling untuk dapat mengobati trauma warga akibat gempa bumi yang masih sering terjadi dan dirasakan.
  • Kondisi pengungsian di Pulau Haruku sangat membutuhkan Tenda Darurat hal ini terlihat pada sebagian besar masyarakat masih menggunakan terpal sebagai tenda darurat untuk mengungsi walaupun lokasi pengungsian berada di lingkungan sekolah.
  • Tim melakukan koordinasi dengan perwakilan Kementerian Sosial Bapak Ian Kusmadiar dalam hal kebutuhan  Tim Traumatic Healling  bagi warga Pulau Haruku.
  • Raja Pulau Haruku (Kepala Desa) dan Pendeta berharap Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas PUPR, dapat segera mengeluarkan Surat Rekomendasi Kelayakan Penggunaan Bangunan Gereja, hal ini sangat diharapkan dikarenakan akan dilaksanakan kegiatan besar Musyawarah Gereja Seluruh Provinsi Maluku di Gereja Heben Haezer Pulau Haruku pada tanggal 20 Oktober 2019.
Update : 26 September 2019

Pada tanggal 26 September 2019 pukul 08.46 WIT Provinsi Maluku terguncang Gempa Bumi dengan kekuatan 6,8 Magnitudo selama 22 Detik yang berdampak pada 2 Kabupaten dan 1 Kota yaitu Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Barat dan Kota Ambon, Provinsi Maluku.

Update : 8 Maret 2019

BANJIR MELANDA DI 15 KABUPATEN DI JAWA TIMUR, LEBIH DARI 12.495 KK TERDAMPAK BANJIR

Adanya aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) di Samudera Hindia telah menyebabkan curah hujan tinggi di kawasan Indonesia. MJO adalah fenomena gelombang atmosfer yang bergerak merambat dari barat (Samudera Hindia)  ke timur dengan membawa massa udara basah. Masuknya aliran massa udara basah dari Samudera Hindia ini meningkatkan potensi curah hujan bagi daerah-daerah yang dilalui. Fenomena ini dapat bertahan hingga satu minggu. Selain itu, adanya sirkulasi siklonik di Samudera Hindia Barat Sumatera yang membentuk  daerah pertemuan angin cukup konsisten di wilayah Sumatera, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Jawa menyebabkan curah hujan meningkat.

BMKG telah menyampaikan hal ini dan prakiraan hujan berpotensi tinggi untuk daerah-daerah di Indonesia telah disebarkan oleh BMKG kepada masyarakat luas. Pada 6/3/2019, curah hujan berintensitas tinggi dan berdurasi lama turun di beberapa daerah sesuai prakiraan BMKG sehingga menimbulkan banjir, longsor dan puting beliung. Di Jawa Timur, hujan deras telah menyebabkan banjir melanda 15 kabupaten karena sungai-sungai dan drainase yang ada tidak mampu mengalirkan aliran permukaan sehingga banjir merendam di banyak tempat. Data sementara, banjir menyebab lebih dari 12.495 KK terdampak. Sebagian masyrakat mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Berdasarkan laporan Pusdalops BPBD Provinsi Jawa Timur, 15 kabupaten yang mengalami banjir adalah Kabupaten Madiun, Nganjuk, Ngawi, Magetan, Sidoarjo, Kediri, Bojonegoro, Tuban, Probolinggo, Gresik, Pacitan, Tranggalek, Ponorogo, Lamongan dan Blitar. Daerah yang paling parah terlanda banjir adalah Kabupaten Madiun. Dampak banjir masing-masing kabupaten sebagai berikut:

1. Kabupaten Madiun
Banjir akibat meluapnya sungai Jeroan yang merupakan anak sungai Madiun. Sebanyak 39 desa, 8 kecamatan di Kabupaten Madiun terendam banjir sehingga menyebabkan 4.317 KK atau 17.268 jiwa terdampak banjir. Rumah rusak berat  2 unit, sawah tergenang  253 Ha, tanggul rusak 3 titik, jembatan rusak 2 unit, gorong-gorong rusak 1 unit, dan ribuan ternak terdampak. Bupati Madiun telah menetapkan masa tanggap darurat banjir selama 14 hari yaitu tanggal 6 -19 Maret 2019.

2. Kabupaten Nganjuk
Banjir disebabkan luapan air Sungai Kuncir di Desa Sonopatik Berbek sehingga banjir merendam jalan raya dan pemukiman warga di 8 dusun, 3 kelurahan, 12 desa, 6 kecamatan dengan ketinggian 10 – 100 cm. Sebanyak 456 KK terdampak banjir. Pendataan dan penanganan darurat masih msih dilakukan.

3. Kabupaten Ngawi
Banjir akibat meluapnya Sungai Bengawan Madiun. Banjir merendam rumah warga sebanyak 4.490 KK di 18 desa, 6 kecamatan di Kabupaten Ngawi dengan ketinggian 50 – 100 cm.

4. Kabupaten Magetan
Banjir akibat meluapnya air sungai ke jalan desa dari RT 13 sampai dengan RT 17 Desa Ngelang Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan. Ketinggian air mencapai 125 cm serta menggenangi rumah warga sejumlah 284 rumah.

5. Kabupaten Sidoarjo
Banjir disebabka luapan Sungai Avoer Krembung II sehingga berdampak pada rumah tergenang sebanyak 498 KK di 3 desa dengan ketinggian 20 – 40 cm.

6. Kabupaten Kediri
Banjir akibat air luapan di Desa Gempolan Kec. Gurah, Kab. Kediri, menyebabkan SDN Gembolan 1 terendam air setinggi 30-50 cm.

7. Kabupaten Bojonegoro
Banjir akibat meluapnya air Sungai Pacal yang berdampak pada 23 desa, 8 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro dengan ketinggian air 30 – 40 cm. Sebanyak 1.382 rumah dan 121 hektar sawah terendam banjir.

8. Kabupaten Tuban
Banjir merendam wilayah di Kecamatan Parengan akibat meluapnya Sungai (Kali Kening) sehingga 10 desa di Kecamatan Parengan terendam dan berdampak pada persawahan tergenang 140 Ha, rumah tergenang 620 KK, jalan poros tergenang dengan ketinggian 20 – 90 cm, kantor pemerintahan tergenang 3 unit, sekolah tergenang 4 unit dan tempat ibadah tergenang 7 unit.

9. Kabupaten Probolinggo
Puting beliung dan banjir terjadi di Desa Tambak Rejo Kecamatan Tongas. Akibat kejadian tersebut berdampak pada 1 orang meninggal dunia dan 1 orang luka ringan akibat puting beliung. Dampak banjir masih dalam pendataan.

10. Kabupaten Gresik
Banjir akibat luapan Kali Miru berdampak pada 3 kecamatan, Kedamaean, Driyorejo, Dukun dengan ketinggian 20 – 100 cm dan rumah tergenang 90 rumah.

11. Kabupaten Pacitan
Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan meluapnya air Sungai Grindulu di Kecamatan Arjosari yang berdampak pada banjir merendam 10 desa di 2 kecamatan dengan ketinggian air 30 – 80 cm.

12. Kabupaten  Trenggalek
Banjir akibat luapan Sungai Ngasinan di Kecamatan Trenggaleksehingga banjir terjadi di 14 desa, 5 kecamatan dengan ketinggian air 15 – 200 cm.

13. Kabupaten Ponorogo
Banjir terjadi di wilayah Kecamatan Balong. Ruas jalan dan permukiman di terendam banjir.

14. Kabupaten Lamongan
Banjir akibat luapan Bengawan Solo sehingga merendam 9 desa di 3 kecamatan yaitu di Kecamatan Laren, Maduran dan Babat. Tanggul Sungai Bengawan Solo jebol sepanjang 70 meter. Banjir juga menyebabkan  terputusnya akses masuk menuju Dusun Sawo Desa Jangkungsumo sehingga masyarakat harus melewati jalur memutar untuk kedaerah lain. Lebih dari 60 rumah terendam banjir.

15. Kabupeten Blitar
Hujan deras yang turun pada 6/3/2019 pukul 11.00 WIB dan pukul 16.00 WIB menyebabkan terjadi banjir, longsor dan pohon tumbang di wilayah. Wilayah yang terdampak Banjir di Dsn. Gondanglegi, Desa Sutojayan dengan warga terdampak sebanyak 240 KK.

BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan masyarakat masih melakukan penanganan darurat. Evakuasi, pemberian bantuan permakanan, pendirian tenda dan lainnya masih dilakukan. Pendataan dampak banjir masih dilakukan BPBD.

Masyarakat dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi banjir, longsor dan puting beliung. Potensi curah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih berpelunag terjadi di beberapa wilayah di Jawa, Bali, NTB, NTT Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua dan Papua Barat.

Sumber : BNPB

 

Update : 28 Februari 2019

Laporan Kejadian Bencana Tanah Longsor

Kejadian pd tgl 26-2-2019 di Desa Bakan Kecamatan Lolayan Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara. Longsor terjadi saat sekitar kurang lebih 60 orang menambang pada 26/2/2019 pukul 21.10 WITA.

Pada saat puluhan orang sedang menambang emas di lokasi tersebut tiba-tiba tiang dan papan penyangga lubang galian patah akibat kondisi tanah yang labil serta banyaknya lubang galian tambang sehingga longsor dan menimbun penambang.

Hingga 27/2/2019 pukul 18.00 WITA, sebanyak 23 orang korban berhasil dievakuasi dimana 4 orang meninggal dunia dan 19 orang selamat dalam kondisi luka ringan dan luka berat. Diperkirakan sekitar 37 orang masih tertimbun longsor.

Evakuasi dilakukan tim SAR gabungan dari BPBD Bolaang Mongondow, TNI, Polri, Basarnas, SKPD terkait, relawan dan masyarakat. Pencarian dilakukan secara manual karena kondisi medan berada pads lereng dengan kemiringan cukup curam.

Bupati Bolaang Mongondow bersama Sekretaris Daerah dan Kapolres telah meninjau lokasi kejadian pada Rabu siang.

Untuk personil Tim SAR gabungan hari yang sebelumnya berjumlah 20 orang. Hari ini mendapat tenaga tambahan dari Polres Kotamobagu dan Kompi Brimob Inuai Bolang Mongondow sebanyak 60 personil. Petugas SAR masih akan berdatangan untuk membantu evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban.

Kebutuhan mendesak saat ini adalah kantong mayat.

Sumber
Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

 

Update : 18 Februari 2019

LAPORAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

HARI/TANGGAL : Senin / 18 Februari 2019

INFORMASI : Pukul 12.40 Wita

WAKTU PELAKSANAAN : 13.05 s.d 15.30 Wita

LOKASI: Desa Pagung RT. 05 (Lahan milik PT. Badak), Kel. Bontang Lestari, Kec. Bontang Selatan

TITIK KOORDINAT : N 0° 4′ 54.3468″, E 117° 28′ 4.026″

KRONOLOGI: BPBD menerima informasi dari Dinas PMK dan Penyelamatan pada pukul 12. 40 Wita dan tim menuju ke tempat kejadian kebakaran, adapun lokasi kejadian di Desa Pagung RT.05 (Lahan PT. Badak, Kel. Bontang Lestari). Pukul 13.05 wita tim tiba di TKK dan melakukan persiapan bersama tim dari Dinas PMK dan Penyelamatan untuk melakukan penanganan. Tim melaksanakan pemadaman bersama pihak – pihak terkait sampai dengan pukul 15.30 Wita.

DAMPAK : Lahan terbakar milik PT. Badak seluas ± 1,1 Ha.

KENDALA : Api besar, angin kencang, dan bahan baku air susah di dapat di lokasi, akses menuju lokasi merupakan jalan setapak yang susah di lalui armada pemadam.

TIM YANG BERTUGAS DILAPANGAN:
1. BPBD;
2. Dinas PMK dan Penyelamatan;
3. Kepolisian;
4. TNI;
5. Dinas Kesehatan;
6. Manggala Agni;
7. Security PT. Badak;
8. Fire PT. Badak (fire truk 1 unit dan fire supply 1 unit).

Sumber
Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bontang