Evaluasi Tindak Lanjut Inisiasi Kesepakatan Kerja Sama

Evaluasi Tindak Lanjut Inisiasi Kesepakatan Kerja Sama

SHARE

Jakarta – 

Direktur Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan dan Kerja Sama, Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan, Kemendagri, Dr. Prabawa Eka Soesanta, S.Sos., M.Si., membuka acara Rapat Evaluasi Tindak Lanjut Inisiasi Kesepakatan Kerja Sama yang dihadiri oleh pejabat yang membidangi kerja sama di provinsi, kabupaten dan kota, baik secara luring dan daring, pada Rabu (09/11/2022). 

Dalam sambutannya, Direktur Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan dan Kerja Sama menyatakan harapannya terhadap bentuk-bentuk kerja sama antar daerah yang dapat memberikan manfaat bagi daerah-daerah. 

”Kerja sama dapat menjadi peluang yang luas dalam menyelesaikan permasalahan di daerah tanpa membebani APBD dan masyarakat. Dan dapat membantu daerah lain,” demikian menurut Prabawa. 

Oleh karena itu, sebelum melaksanakan kerja sama daerah, daerah perlu melakukan identifikasi dan pemetaan urusan pemerintahan yang dapat dikerjasamakan. Hasil pemetaan tersebut sebagai dasar dalam perencanaan dan penganggaran daerah. Pemetaan kerja sama dimulai dari pemetaan potensi dan karakteristik daerah. Aturan terkait kerja sama sudah ada yang mengaturnya. 

Kondisi saat ini dalam pelaksanaan kerja sama daerah, khususnya dalam hal pemetaan urusan yang dapat dikerjasamakan, dari 37 provinsi dan 514 kab/kota, baru 21 daerah yang melaporkan pemetaan kepada Kementerian Dalam Negeri. 

Daerah-daerah tersebut terdiri dari 3 provinsi (Provinsi Jawa Tengah, Sumatera Barat dan Kalimantan Selatan), 13 kabupaten (Kabupaten Cilacap, Garut, Bengkulu Selatan, Belitung Boyolali, Bangka Tengah, Klaten, Demak, Tanjung Jabung Barat, Lumajang, Wonogiri, Klungkung, Sidenreng Rappang) dan 5 kota (Kota Cimahi, Dumai, Salatiga, Payakumbuh, dan Batam). 

Padahal, di era kemajuan teknologi saat ini potensi kerja sama dapat lebih dioptimalkan karena dunia berada dalam genggaman. 

Saat ini kita masuk dalam peradaban gelombang ketiga. Pada gelombang pertama manusia mulai tinggal di suatu tempat kemudian bercocok tanam. Gelombang kedua ketika mulai ditemukannya mesin, dimana dahulunya menggunakan ternak ataupun binatang dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ditemukan mesin kita dapat melakukan perjalanan jauh tanpa menggunakan tenaga binatang. Gelombang ketiga yakni  penggunaan teknologi informasi. Pada gelombang ini di era digital, dunia berada dalam genggaman.